Senin, 23 November 2015

Secangkir Rindu di Kala Hujan


Apa kabar? Aku masih disini, di tempat yang sama, dengan perasaan yang sama, bolehlah angin menghembuskan rinduku padamu disana, tak ingin mengusik, hanya menyapa saja.

Seperti yang sudah-sudah, tak henti aku meneguk secangkir rindu yang selalu terasa hangat meski dingin menyeruak. Betapa waktu begitu hebat, meski singkat, nyatanya telah mampu membuatku jatuh hati padamu hanya dalam beberapa kali tatap.

Aku penasaran, apakah kau masih meneguk cangkir rindumu dengan aroma dan rasa yang sama? Apa kau juga penasaran dengan rasa cangkir rinduku?

Rupanya, gerimis asin yang jatuh dan mendarat pada cangkirku telah menambah rasa kenikmatan seduhan kopiku. Mau mencobanya? Pernahkah kau menikmati kopi asin pada malam dingin di tepian jendela kamar? Inilah yang setiap hari kulakukan, mencoba untuk membunuh rindu yang semakin liar menjalar memenuhi sekat-sekat kekosongan hati yang  tertawan.

Sekarang harus bagaimana lagi? Mengetukmu berkali-kali juga tak kunjung membuat kita bersua, tapi kau tenang saja, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyerah tanpa ada alasan jelas untukku benar-benar meninggalkan.

Entah ini sudah ke berapa kali seduhan. Ku ingin kau menikmatinya pula, secangkir rindu dengan dua sendok kehangatan, dan satu sendok kemurnian. Nikmati dan teguklah ditengah aroma hujan.

This Is The Oldest Page

Berkomentarlah sesuai isi artikel :)
EmoticonEmoticon